Senin, 01 Agustus 2016

Haussmann, Sosok Perancang Dibalik Megahnya Kota Paris

Kota Paris yang merupakan ibukota Perancis, dimana negara ini pada tahun 2016 ini menjadi tuan rumah dari penyelenggaraan turnamen terbesar sepakbola di benua Eropa yaitu Piala Eropa. Sudah lama dikenal sebagai kota yang romantis di dunia dan menjadi salah satu kota fashion dunia. Tidak mengherankan apabila kota ini menjadi salah satu destinasi kota wisata paling favorit bagi para wisatawan dunia.

Baca Juga : Benarkah Ini Teori Dibalik Lenyapnya Suku Maya?

Hal ini karena selain banyaknya bangunan ikonik yang ada di kota ini, diantaranya Menara Eiffel, Piramida Louvre dan Arc de Triomphe, tetapi juga karena keindahan kotanya dimana bangunan-bangunannya bergaya abad 19-an yang berjajar dengan rapi dan indah. Tetapi sebenarnya kota ini dahulu tidaklah seindah dan serapi sekarang.

kota paris
kota paris [source]

Dahulu bangunan-bangunan di kota Paris ini tidak tersusun rapi dan terkesan kumuh serta jalan-jalannya yang sempit. Kemudian revolusi industri terjadi dan membawa Paris mengalami renovasi besar-besaran. Pada saat itu, kaisar Perancis, Napoleon III memerintahkan Prefet-nya (sebutan untuk gelar gubernur pada saat zaman Romawi) untuk Seine yaitu George-Eugene Haussmann untuk membangun kembali kota Paris ini pada tahun 1853. Haussmann bukanlah seorang arsitek maupun perencana bangunan, dia hanyalah seorang pejabat pemerintahan. Haussmann kemudian meratakan seluruh bangunan di kota Paris dan menjadikan kota Paris seperti Kapal Titanic yang hancur lebur selama 20 tahun. Meskipun akhirnya Haussmann dipaksa untuk mengundurkan diri pada tahun 1870, karena Kaisar Perancis mendapatkan kritikan yang tajam atas pengeluaran keuangan pemerintahan secara berlebihan, rencana pembangunan Haussmann ini tetap berjalan 
hingga tahun 1920-an.

haussmannspade

Rencana pembangunan Haussmann ini dilaksanakan dalam tiga tahap. Dimana dalam rencana pembangunan ini harus menghancurkan sebanyak 19.730 bangunan, termasuk bangunan bersejarah Kota Paris dan juga rumah masa kecil dari Haussmann sendiri, dan membangun 34.000 bangunan baru. Jalan-jalan tua yang sempit dilebarkan, dimana diatur dengan sangat rapi dan teratur sehingga blok-blok apartemen yang ada di samping jalan juga terlihat rapi dan teratur. Pelebaran jalan ini secara teoritis dilakukan untuk memungkinkan pasukan tentara dapat bergerak bebas untuk menjaga ketertiban umum, kerusakan dan gangguan lainnya.
Dalam rencana pembangunan Haussmann ini juga dibuat sistem pembuangan limbah yang komprehensif sehingga memberikan akses yang luas bagi penduduk kota Paris untuk mendapatkan air bersih, jaringan pipa gas bawah tanah juga dibangun untuk pencahayaan jalan-jalan dan bangunan-bangunan, dibuat pula air mancur yang dikerjakan secara seksama dan terperinci, dibangun pula fasilitas-fasilitas umum seperti toilet-toilet umum, serta ditanami pohon-pohon baru di sisi-sisi jalan. Pembangunan infrastruktur ini selaras dengan stasiun kereta api baru, yaitu Gare du Nord dan Gare de L’Est, sekolah-sekolah baru, gereja-gereja, Gedung Kesenian atau Teater di Place du Chatelet, Food Market Les Halles dan Arc de Triomphe.

Baca Juga : Menguak Fakta Islam di Bumi Cendrawasih Ujung Timur Indonesia

Rencana pembangunan Haussmann ini sangat monmental dan mengesankan. Bahkan ketika Napoleon III bertemu untuk pertama kalinya dengan Haussmann tertulis bahwa, “Aku sedang berada di depan salah satu orang yang paling luar biasa pada masa ini, dia besar, kuat, bertenaga, enerjik dan pada saat yang sama pintar dan licik.”


EmoticonEmoticon